HMI: Ketika Kuliah Bukan Hanya Tentang Gelar
Oleh: M. Arjuna Pase (Kader HMI Komisariat Syari’ah, Korkom UIN STS Jambi, Cabang Jambi)
JARIJAMBI.COM — Ada satu fase dalam hidup yang mungkin sedang kita jalani bersama: menjadi mahasiswa.
Kita datang ke kampus dengan membawa banyak harapan. Ada yang ingin menjadi sarjana, ada yang ingin membanggakan orang tua, ada yang ingin mengubah kehidupan, dan ada pula yang masih mencari jawaban tentang siapa dirinya dan untuk apa ia belajar.
Namun, pernahkah kita bertanya lebih jauh?
Jika nanti kita mendapatkan gelar, tetapi kehilangan nilai; mendapatkan ilmu, tetapi kehilangan arah; menjadi pintar, tetapi tidak peduli kepada sesama lalu apa arti pendidikan yang kita tempuh?
Di sinilah saya mengenal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Bagi saya, HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa. Ia adalah ruang untuk mempertemukan ilmu dengan iman, pikiran dengan nilai, dan idealisme dengan pengabdian.
Islam mengajarkan bahwa manusia tidak diciptakan tanpa tujuan. Allah berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepadaku”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Maka menjadi mahasiswa pun semestinya tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ilmu yang kita pelajari seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi manusia.
HMI hadir dengan semangat itu.
Di dalam HMI, kita diajak untuk belajar berpikir tanpa kehilangan iman, berdiskusi tanpa kehilangan adab, berjuang tanpa kehilangan keikhlasan, dan berorganisasi tanpa melupakan tanggung jawab sebagai seorang muslim dan warga negara.
Sebab ilmu tanpa nilai dapat kehilangan arah.
Keberanian tanpa moral dapat menjadi kesombongan.
Dan perjuangan tanpa keikhlasan dapat berubah menjadi sekadar ambisi.
Karena itu, menjadi kader bukan tentang seberapa cepat kita mendapatkan posisi. Bukan pula tentang seberapa banyak orang mengenal nama kita.
Kaderisasi adalah perjalanan untuk membentuk manusia.
Manusia yang mau belajar ketika belum tahu.
Mau mendengar ketika berbeda pendapat.
Mau mengakui kesalahan ketika keliru.
Dan tetap berdiri ketika kepentingan diri sendiri harus berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar.
Bagi mahasiswa baru, mungkin HMI terlihat hanya sebagai kumpulan mahasiswa dengan atribut hijau hitam. Tetapi di balik hijau dan hitam itu ada proses yang panjang.
Ada forum-forum kecil tempat gagasan diperdebatkan.
Ada malam-malam panjang ketika buku dibaca dan persoalan bangsa dibicarakan.
Ada persahabatan yang tumbuh dari perbedaan.
Ada kegagalan yang mengajarkan kerendahan hati.
Dan ada perjuangan yang mengajarkan bahwa menjadi manusia bermanfaat tidak selalu mudah.
HMI mengajarkan satu hal penting yakni bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton atas keadaan.
Ketika masyarakat menghadapi persoalan, kita belajar untuk memahami.
Ketika ketidakadilan terjadi, kita belajar bersikap.
Ketika kebenaran membutuhkan suara, kita belajar menyampaikannya dengan ilmu dan tanggung jawab.
Namun, perjuangan itu harus selalu kembali kepada nilai. Sebab seorang intelektual Muslim bukan hanya dituntut untuk cerdas, tetapi juga benar dalam sikap dan baik dalam akhlak.
Untuk adik-adik mahasiswa baru yang sedang mencari tempat untuk bertumbuh, saya tidak ingin mengatakan bahwa HMI adalah satu-satunya jalan. Setiap orang memiliki pilihan dan perjalanan masing-masing.
Tetapi saya ingin mengatakan:
Kenalilah HMI sebelum menilainya. Dengarkan gagasannya sebelum menyimpulkan. Ikuti prosesnya sebelum mengatakan tidak.
Mungkin di dalamnya kalian menemukan sesuatu yang selama ini dicari.
Bukan sekadar organisasi, Tetapi ruang untuk bertanya kepada diri sendiri:
Untuk apa saya kuliah?
Untuk apa saya memiliki ilmu? Dan setelah semua yang saya pelajari, kepada siapa saya akan memberikan manfaat?
Karena pada akhirnya, kampus akan memberikan kita gelar, tetapi proseslah yang membentuk siapa diri kita setelah gelar itu melekat.
Dan mungkin, di antara banyak pilihan ruang untuk berproses di dunia mahasiswa, HMI adalah salah satu tempat di mana kita belajar bahwa ilmu harus memiliki iman, perjuangan harus memiliki keikhlasan, dan kehidupan harus memiliki kebermanfaatan.
Hijau bukan sekadar warna, Hitam bukan sekadar simbol, Di dalamnya ada nilai yang harus dipahami,
ada proses yang harus dijalani,
dan ada perjuangan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Salam Perjuangan.
YAKUSA
Yakin Usaha Sampai.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan ad-Daraquthni)









