Merdeka: Ketika Kebebasan Masih Menjadi Pertanyaan
Oleh: M. Arjuna Pase
JARIJAMBI.COM — Merdeka barangkali kata ini terlalu sering kita ucapkan, hingga kita lupa untuk benar-benar memaknainya.
Setiap tahun kita mengibarkan bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, dan merayakan kemerdekaan dengan penuh kebanggaan. Namun, di tengah riuh perayaan itu, saya justru ingin bertanya dalam diam, benarkah kita telah merdeka?
Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah ketika manusia mampu berdiri dengan pikirannya sendiri, berbicara tanpa rasa takut, dan memperjuangkan kebenaran tanpa harus tunduk kepada kepentingan.
Apa arti merdeka jika hukum hanya tajam kepada mereka yang lemah?
Apa arti merdeka jika suara rakyat hanya didengar ketika dibutuhkan?
Apa arti merdeka jika mereka yang berbeda pendapat dianggap sebagai ancaman?
Mungkin penjajahan hari ini tidak lagi datang dengan senjata. Ia bisa hadir dalam bentuk ketakutan, ketidakadilan, keserakahan, bahkan dalam diamnya orang-orang yang memilih tidak peduli.
Karena itu, bagi saya, merdeka bukan sekadar warisan sejarah. Merdeka adalah tanggung jawab moral setiap generasi.
Kita tidak cukup hanya mengenang mereka yang berjuang untuk kemerdekaan. Kita juga harus bertanya kepada diri sendiri: apa yang sedang kita perjuangkan untuk mempertahankan makna kemerdekaan itu?
Sebab bangsa yang merdeka bukan bangsa yang tidak memiliki masalah, melainkan bangsa yang berani menghadapi masalahnya dengan keberanian, hukum, dan akal sehat.
Dan mungkin, kemerdekaan yang paling hakiki bukanlah ketika kita bebas melakukan apa saja, tetapi ketika kita bebas berpikir, berani bersuara, dan tetap berpihak pada kebenaran meski berada dalam kesunyian.
Dirgahayu Republik Indonesia.
Merdeka bukan hanya untuk dirayakan, tetapi untuk terus diperjuangkan. (*)










