Ketika Semangat Hidup Mati Perlahan
Oleh: Muhammad Arjuna Pase
JARIJAMBI.COM — Ada fase paling sunyi dalam hidup manusia yakni ketika tubuh masih berjalan, tetapi jiwanya sudah lelah bertarung. Tidak semua luka terlihat. Tidak semua orang yang tersenyum benar-benar bahagia. Dan tidak semua orang yang diam berarti baik-baik saja.
Saya, Muhammad Arjuna Pase, pernah berada di titik itu masa ketika semangat hidup terasa hilang sedikit demi sedikit. Bukan karena tidak punya mimpi, tetapi karena terlalu banyak kenyataan yang memaksa hati belajar keras tentang kecewa. Dunia hari ini terlalu berisik memaksa manusia menjadi sempurna. Semua orang berlomba terlihat berhasil, kuat, kaya, dan bahagia. Media sosial menjadikan pencapaian sebagai perlombaan, sementara banyak orang diam-diam sedang berada dan berperang dengan dirinya sendiri.
Ironisnya, manusia sekarang lebih takut terlihat gagal dibanding kehilangan dirinya sendiri.
Kita hidup di zaman ketika orang mudah memberi motivasi, tetapi jarang mau memahami. Semua menyuruh bertahan, akan tetapi sedikit yang bertanya, “Seberapa lelah dirimu?” Padahal kehilangan semangat bukan tentang lemahnya seseorang. Terkadang itu lahir dari terlalu lama memendam kecewa, terlalu sering diremehkan, dan terlalu banyak memikul beban sendirian.
Saya belajar satu hal, hidup tidak selalu adil kepada orang baik. Ada orang yang tulus tetapi dikhianati. Ada orang yang berjuang tetapi dilupakan. Bahkan ada orang yang diam-diam hancur hanya untuk terlihat kuat di depan banyak orang.
Namun justru di titik paling gelap itulah manusia diuji, apakah dia memilih menyerah, atau tetap berjalan meski tertatih.
Dalam Filosofi Teras, Henry Manampiring menulis tentang bagaimana manusia tidak bisa mengendalikan semua hal dalam hidupnya. Kita tidak bisa mengatur bagaimana dunia memperlakukan kita, tetapi kita bisa menentukan bagaimana cara kita bangkit setelah dihancurkan keadaan.
Saya percaya, kehilangan arah bukan akhir dari perjalanan. Kadang Tuhan menghancurkan semangat kita terlebih dahulu agar kita belajar membangun diri dengan cara yang lebih kuat. Sebab manusia yang pernah jatuh hingga titik terendah biasanya akan memahami arti hidup lebih dalam dibanding mereka yang selalu berada di atas.
Ada kutipan dari Atomic Habits karya James Clear yang begitu menampar berbunyi, “ besar berasal dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.”
Artinya, bangkit tidak harus langsung hebat. Kadang cukup dengan bertahan satu hari lagi. Cukup dengan tidak menyerah hari ini. Karena orang-orang besar tidak lahir dari hidup yang mudah, tetapi dari luka yang berhasil mereka taklukkan.
Hari ini saya memahami bahwa semangat hidup tidak selalu datang dari kemenangan. Kadang dia lahir dari rasa sakit yang berhasil dilewati. Dan mungkin benar, manusia paling kuat bukanlah mereka yang tidak pernah hancur, melainkan mereka yang tetap memilih hidup meski berkali-kali dipatahkan keadaan.
Untuk siapa pun yang sedang kehilangan semangat: jangan buru-buru menyerah hanya karena hidup belum berpihak. Tidak semua proses indah berjalan cepat. Dan tidak semua perjuangan langsung dihargai manusia.
Sebab pada akhirnya, dunia hanya melihat hasil. Tetapi Tuhan melihat seluruh perjuangan yang tidak pernah diceritakan. (*)










