JARIJAMBI. COM, TANJAB BARAT — Aroma kopi bukan sekadar tentang cita rasa. Di Aula SLB Negeri Kuala Tungkal, aroma itu menjelma menjadi simbol harapan baru. Harapan tentang kemandirian, kesempatan kerja, dan masa depan yang lebih terbuka bagi para penyandang disabilitas.
SKK Migas bersama PetroChina International Jabung Ltd pun menggelar Training Bridge to Employment Vocational Coffee Skills. Kegiatan itu berupa pelatihan keterampilan vokasional barista dan pengolahan kopi.
Pelatihan diberikan kepada siswa dan alumni SLB Negeri Kuala Tungkal. Pembukaan program berlangsung meriah di aula sekolah itu, Senin, 19 Oktober 2026.
Di hadapan para peserta, guru, dan undangan yang hadir, CSR Specialist PetroChina International Jabung Ltd, Rina Putri, menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar SLB Negeri Kuala Tungkal yang telah menyambut hangat pelaksanaan kegiatan tersebut.
Rina menjelaskan, program ini merupakan bagian dari komitmen sosial perusahaan yang terus dijalankan di wilayah operasional PetroChina di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
“PetroChina International Jabung LTD merasa sangat bangga dapat berkolaborasi dengan sekolah luar biasa Negeri Kuala Tungkal,” ujarnya saat memberikan sambutan.
Bagi PetroChina, program tersebut bukan sekadar pelatihan teknis. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari Program Pengembangan Masyarakat (PPM) pada pilar ekonomi yang menghadirkan program Digdaya, singkatan dari Difabel Inovatif Generasi yang Andal.
“Kami meyakini bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya,” kata Rina.
Keyakinan itu menjadi dasar lahirnya berbagai program pemberdayaan yang menyasar kelompok disabilitas. Melalui pelatihan ini, PetroChina mengusung semangat enabling abilities creating opportunities. Sebuah ikhtiar bersama untuk membuka jalan menuju kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas, agar mampu bersaing dan berdaya dalam dunia usaha maupun dunia industri.
Program pelatihan barista dan wirausaha kopi tahun 2026 dirancang secara komprehensif, terstruktur, dan berkelanjutan. Setiap tahapan disusun untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, sekaligus kepercayaan diri para peserta.
Sebanyak 46 siswa dengan berbagai latar belakang kebutuhan khusus mengikuti tahapan awal berupa asesmen dan identifikasi potensi. Pada fase ini, peserta menjalani pemetaan minat dan bakat sebagai dasar penyusunan proses pembelajaran selanjutnya.
Tahapan berikutnya, pelatihan motivasi dan kunjungan lapangan. Melalui kegiatan tersebut, peserta dibekali penguatan mental kewirausahaan dan rasa percaya diri. Bekal itu dinilai penting sebelum mereka memasuki pelatihan inti.
Setelah itu, para peserta akan mengikuti pelatihan barista yang berlangsung selama 30 hari kerja efektif. Di sinilah mereka akan belajar secara langsung mengenai dunia kopi, mulai dari teknik dasar hingga praktik penyajian minuman.
“Kepada anak-anakku sekalian, para siswa dan alumni SLB Negeri Kuala Tungkal, jadikan kesempatan ini sebagai batu loncatan untuk membuktikan bahwa kalian adalah generasi yang andal. Belajarlah dengan sungguh-sungguh serap ilmu dari para instruktur dan tunjukkan semangat perbaikan,” pesan Rina.
Di balik semangat yang dibangun dalam program tersebut, terdapat tim pendamping yang akan mendampingi peserta selama proses pelatihan berlangsung. Salah satunya, instruktur barista, Muhammad Reza Pahlevi.
Reza menegaskan, seluruh peserta akan mendapatkan pendampingan secara sabar dan bertahap. Tidak hanya dari tenaga pengajar, peserta juga akan didampingi psikolog untuk membantu proses belajar dan pengembangan diri selama pelatihan.
“Targetnya mungkin nanti kita akan menjadikan anak-anak bisa dan menjadi pemula basic dalam pembuatan kopi yang tidak memakai mesin kopi yaitu membuat dengan manual,” ungkapnya.
Menurut Reza, proses belajar akan dimulai dari hal-hal dasar. Peserta diperkenalkan pada berbagai peralatan kopi, jenis-jenis kopi, hingga bahan baku pendukung lainnya. Tidak hanya minuman berbahan kopi, mereka juga akan mempelajari pembuatan berbagai minuman nonkopi.
Harapannya sederhana, tapi memiliki dampak besar. Ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk bekerja, berwirausaha, atau bahkan membuka usaha mandiri di masa mendatang.
Ia pun berharap program serupa dapat terus dilaksanakan setiap tahun, sehingga semakin banyak penyandang disabilitas yang memperoleh akses terhadap keterampilan kerja dan peluang ekonomi.
Bagi para siswa dan alumni SLB Negeri Kuala Tungkal, pelatihan ini menjadi lebih dari sekadar kelas keterampilan. Ia adalah ruang untuk membangun kepercayaan diri. Tempat di mana keterbatasan tidak lagi dipandang sebagai penghalang, melainkan tantangan yang dapat ditaklukkan melalui kemampuan dan kerja keras.
Kegiatan pembukaan turut dihadiri Rina Putri selaku CSR Specialist PetroChina International Jabung Ltd, Pelaksana Tugas Kepala SLB Negeri Kuala Tungkal Hasanah, instruktur barista M. Riza Fahlevi, psikolog Novil Cut Nizar, motivator Ridho Akbar, asesor pedagogik Umi Pujiastuti, para siswa dan alumni SLB Negeri Kuala Tungkal, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Di aula sekolah itu, secangkir kopi belum benar-benar diseduh. Namun benih harapan telah ditanam. Dari tangan-tangan para peserta yang sedang belajar, harapan tentang masa depan yang lebih mandiri perlahan mulai diracik. (Syar)










