Macan Yang Mulai Kehilangan Taring: Krisis Daya Juang Dan Pola Pikir Kader HMI
Oleh: M. Arjuna Pase
JARIJAMBI. COM — Ada masa ketika Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekedar organisasi mahasiswa yang dikenal karena atribut hijau hitamnya. HMI dikenal karena keberanian berpikir, kekuatan intelektual, daya juang, serta keberaniannya mengambil posisi dalam membaca dan merespons persoalan bangsa.
Di lingkungan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, khususnya HMI Komisariat Syariah, pernah ada masa ketika nama komisariat ini begitu diperhitungkan. Ia dikenal sebagai salah satu kekuatan gerakan mahasiswa, tempat lahirnya kader-kader yang memiliki keberanian, gagasan, dan pengaruh dalam dinamika kampus. Tidak berlebihan jika kemudian muncul sebutan bahwa Syariah pernah menjadi macan di lingkungan UIN STS Jambi.
Namun, pertanyaan yang harus kita ajukan hari ini adalah apakah macan itu masih memiliki taring, atau kita hanya sedang membanggakan cerita tentang kegagahan masa lalu?
Pertanyaan ini tentu tidak dimaksudkan untuk menafikan perjuangan kader yang masih aktif hari ini. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kegelisahan terhadap kondisi HMI secara keseluruhan dan secara khusus terhadap masa depan HMI Syariah.
HMI dan Persoalan Kemunduran Kesadaran Kader
Krisis yang sedang dihadapi HMI hari ini tidak cukup dilihat dari persoalan berkurangnya jumlah kader yang aktif dalam kegiatan organisasi. Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu melemahnya daya juang, tradisi intelektual, dan kesadaran terhadap tanggung jawab seorang kader.
Kita masih menemukan kader yang bangga menyebut dirinya bagian dari HMI, tetapi belum sepenuhnya memahami apa makna menjadi kader. Ada yang begitu bersemangat ketika berbicara tentang identitas organisasi, tetapi kehilangan semangat ketika diminta membaca, berdiskusi, mengkaji persoalan sosial, bahkan menjalankan tanggung jawab organisasi.
Lebih memprihatinkan lagi ketika ruang perkaderan justru dipenuhi hal-hal yang tidak memiliki hubungan dengan tujuan pembentukan kualitas kader. Energi kader terkadang terseret pada kepentingan kelompok, persoalan personal, perebutan pengaruh, dan aktivitas yang justru menjauhkan mereka dari tradisi intelektual.
Organisasi yang seharusnya menjadi ruang pembentukan kesadaran malah berpotensi menjadi ruang reproduksi kebiasaan yang tidak produktif.
Kita perlu jujur bahwa tidak semua persoalan kader hari ini berasal dari junior. Senior, struktur kepengurusan, dan budaya organisasi juga memiliki tanggung jawab. Sebab, kader tidak tumbuh dalam ruang kosong. Mereka dibentuk oleh lingkungan, teladan, dan proses perkaderan yang mereka alami.
Lafran Pane Tidak Mendirikan HMI untuk Sekadar Dibanggakan
Jika kita kembali kepada pemikiran Lafran Pane dan sejarah kelahiran HMI pada 5 Februari 1947, kita akan menemukan bahwa organisasi ini lahir dari kesadaran terhadap persoalan keumatan dan kebangsaan.
HMI dibangun dengan semangat keislaman dan keindonesiaan. Artinya, seorang kader tidak boleh hanya sibuk dengan urusan internal organisasi, sementara persoalan masyarakat dan bangsa tidak lagi menjadi perhatian.
Lafran Pane mewariskan sebuah semangat bahwa mahasiswa Islam harus memiliki peran dalam perjalanan bangsa. Menjadi kader bukan sekadar memperoleh identitas organisatoris, melainkan mengambil tanggung jawab sejarah.
Maka, menjadi ironi ketika hari ini ada kader yang lebih mengenal dinamika perebutan jabatan daripada pemikiran pendiri organisasinya sendiri.
Kita mengenakan jas hijau hitam, tetapi apakah cara berpikir kita sudah mencerminkan nilai yang diperjuangkan HMI?
Kita menyebut nama Lafran Pane, tetapi apakah kegelisahan intelektual dan keberaniannya masih hidup dalam diri kita?
Jangan sampai kita hanya menjadi pewaris atribut, tetapi kehilangan warisan pemikiran.
NDP: Antara Hafalan Forum dan Kenyataan Kehidupan
Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) seharusnya menjadi fondasi berpikir dan bertindak seorang kader. NDP bukan sekadar materi yang dibahas ketika LK I, menjadi bahan diskusi ketika ada senior yang bertanya, kemudian terlupakan setelah forum perkaderan selesai.
Tauhid seharusnya membentuk manusia yang merdeka dari kepentingan sempit. Kemanusiaan mengajarkan keberpihakan terhadap martabat manusia. Ilmu pengetahuan menuntut kader untuk terus membaca, berpikir, dan mengembangkan kemampuan intelektualnya. Sementara keadilan sosial menuntut keberanian untuk melihat dan memperjuangkan persoalan masyarakat.
Lantas, bagaimana mungkin kita mengaku memahami NDP jika budaya membaca saja tidak tumbuh?
Bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemerdekaan berpikir, tetapi tidak berani menyampaikan kritik?
Bagaimana mungkin kita berbicara tentang keadilan, tetapi justru membiarkan kepentingan kelompok mengalahkan kepentingan organisasi?
NDP seharusnya menjadi alat untuk membaca realitas, bukan sekadar menjadi kebanggaan dalam forum perkaderan.
HMI Syariah: Dulu Macan, Sekarang Bagaimana?
Bagian ini mungkin menjadi kritik yang paling dekat dengan kita.
HMI Syariah UIN STS Jambi pernah memiliki tempat tersendiri dalam dinamika pergerakan mahasiswa. Ada semangat, ada daya juang, ada keberanian, dan ada tradisi intelektual yang membuat keberadaannya diperhitungkan.
Namun, kebesaran masa lalu tidak boleh menjadi tempat bersembunyi dari kenyataan hari ini.
Kita tidak bisa terus-menerus membanggakan bahwa Syariah pernah menjadi macan, sementara kita tidak cukup serius membangun generasi yang mampu mempertahankan bahkan melampaui pencapaian tersebut.
Macan tidak kehilangan taring hanya karena usianya bertambah. Ia kehilangan taring ketika tidak lagi mengasah kemampuan berburu dan mempertahankan wilayahnya.
Begitu pula organisasi. HMI Syariah tidak akan kehilangan pengaruh hanya karena pergantian generasi. Ia akan kehilangan pengaruh ketika kadernya berhenti belajar, berhenti berpikir, berhenti bergerak, dan tidak lagi memiliki keberanian untuk mengambil tanggung jawab.
Kita harus berani bertanya kepada diri sendiri: di mana kader-kader yang dahulu dikenal karena gagasannya? Di mana tradisi diskusi yang mampu melahirkan pemikiran kritis? Di mana keberanian mengambil sikap terhadap persoalan kampus? Dan yang paling penting, di mana kesadaran kolektif untuk membesarkan komisariat?
Jangan sampai yang tersisa hanya cerita tentang kejayaan, sementara semangat untuk membangunnya kembali justru semakin menipis.
Krisis Literasi Adalah Ancaman bagi Masa Depan Pergerakan
Tidak ada gerakan mahasiswa yang kuat tanpa fondasi pengetahuan.
Kader yang minim literasi akan kesulitan membangun argumentasi. Kader yang tidak terbiasa berdiskusi akan mudah terjebak pada pemikiran yang sempit. Kader yang tidak memiliki keberanian menguji gagasan akan mudah mengikuti arus tanpa memahami arah perjuangan.
Kita membutuhkan kader yang mampu membaca buku, memahami hukum, menguasai persoalan sosial, memahami politik, serta mampu menganalisis kebijakan publik.
Apalagi HMI Syariah berada dalam lingkungan akademik yang dekat dengan kajian hukum dan keislaman. Seharusnya, kondisi tersebut menjadi modal untuk melahirkan kader yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga memiliki kedalaman argumentasi.
Jangan sampai kita lebih sibuk membicarakan siapa yang layak menjadi ketua daripada membicarakan bagaimana melahirkan kader yang berkualitas.
Sebab, jabatan dalam organisasi memiliki masa, tetapi kualitas intelektual dan integritas seorang kader seharusnya terus berkembang.
Mengembalikan Taring, Bukan Sekadar Mengulang Sejarah
Kita tidak sedang meminta HMI Syariah kembali ke masa lalu dengan cara yang sama. Zaman telah berubah, tantangan mahasiswa semakin kompleks, dan persoalan masyarakat membutuhkan pendekatan yang lebih luas.
Yang harus dikembalikan adalah semangat perjuangannya.
HMI secara keseluruhan membutuhkan revitalisasi budaya intelektual, penguatan perkaderan, dan keberanian untuk kembali mengambil peran dalam persoalan umat dan bangsa.
Khusus HMI Syariah, kita membutuhkan generasi yang tidak hanya bangga dengan sejarah komisariatnya, tetapi memiliki kesanggupan untuk menciptakan sejarah baru.
Senior harus kembali menjadi teladan, bukan sekadar pemberi instruksi. Junior harus berani belajar dan mengambil tanggung jawab, bukan hanya menunggu arahan. Pengurus harus membangun program yang berdampak, bukan sekadar menggugurkan agenda organisasi.
Kita perlu menghidupkan kembali forum-forum diskusi, kajian NDP, budaya membaca, advokasi persoalan mahasiswa, dan gerakan sosial yang berangkat dari analisis intelektual.
Karena organisasi yang besar bukan organisasi yang paling sering membicarakan kebesarannya, melainkan organisasi yang terus melahirkan kader berkualitas dan memberikan manfaat bagi lingkungannya.
Penutup: Jangan Sampai Macan Hanya Tinggal Nama
Tulisan ini bukan bentuk kebencian terhadap HMI, apalagi terhadap HMI Syariah. Justru karena masih ada kecintaan terhadap organisasi inilah kritik harus disampaikan.
Kita harus berhenti menjadikan masa lalu sebagai satu-satunya ukuran kebesaran. Sejarah memang penting, tetapi sejarah tidak akan menyelamatkan organisasi jika generasi hari ini tidak memiliki kesadaran untuk melanjutkan perjuangan.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang paling lantang menyebut Lafran Pane, tetapi paling jauh dari semangat perjuangannya. Jangan sampai kita paling sering berbicara tentang NDP, tetapi paling sedikit menghidupkan nilai-nilainya.
Dan khusus untuk HMI Syariah, jangan sampai sebutan macan hanya menjadi cerita yg diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa pernah benar-benar diwujudkan kembali.
Sebab, macan tidak dinilai dari seberapa keras aungannya, tetapi dari seberapa kuat ia mempertahankan keberadaannya. Begitu pula kader HMI, bukan dinilai dari seberapa bangga ia menyebut dirinya kader, tetapi dari seberapa nyata perjuangan yang dia lakukan.
HMI tidak kekurangan orang yang ingin disebut kader. Yang harus kita perjuangkan adalah lahirnya kader yang benar-benar memahami mengapa dia menjadi kader.
Jangan hanya mewarisi nama besar HMI. Warisilah keberanian berpikir, keteguhan prinsip, dan daya juangnya.










