MILAD HMI: Merawat Kegelisahan, Menjaga Keberpihakan
Oleh: M Arjuna Pase ( Kader HMI komisariat syariah UIN STS Jambi )
JARIJAMBI.COM — Milad Himpunan Mahasiswa Islam bukan sekadar perayaan usia, melainkan momentum untuk mengingat kembali alasan mengapa organisasi ini dilahirkan. HMI tidak lahir dari ruang yang nyaman, tetapi dari kegelisahan zaman ketika keislaman dan keindonesiaan membutuhkan jembatan pemikiran yang berani, kritis, dan bertanggung jawab.
Sejarah HMI adalah sejarah dialektika. Ia tumbuh dari perdebatan ide, bertahan melalui tekanan politik, dan terus diuji oleh perubahan sosial yang kian cepat. Namun justru di situlah nilai HMI diuji apakah ia masih setia menjadi ruang intelektual yang merdeka, ataukah perlahan berubah menjadi organisasi yang sibuk merayakan simbol, tetapi abai pada substansi.
Di usia yang terus bertambah, tantangan terbesar HMI bukan soal eksistensi, melainkan konsistensi. Konsistensi menjaga nalar kritis di tengah godaan pragmatisme. Konsistensi membela nilai keadilan sosial ketika keberpihakan sering dianggap sebagai risiko. Konsistensi merawat independensi ketika kedekatan dengan kekuasaan terasa lebih menjanjikan daripada keberanian bersuara.
Keislaman tanpa kepekaan sosial hanya akan melahirkan kesalehan yang sunyi. Keindonesiaan tanpa kritik hanya akan menghasilkan kepatuhan tanpa kesadaran. Di sinilah HMI seharusnya berdiri: sebagai kader umat dan bangsa yang tidak hanya fasih berbicara, tetapi juga berani mengambil sikap.
Milad ini semestinya menjadi ruang muhasabah kolektif. Bahwa kader intelektual tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi harus tajam membaca ketimpangan.
Bahwa aktivisme tidak boleh berhenti pada mimbar diskusi, tetapi harus hadir dalam pembelaan terhadap mereka yang dilemahkan oleh sistem yang tidak adil.
HMI akan tetap hidup bukan karena usianya, tetapi karena kegelisahan yang terus dirawat. Selama HMI berani berpikir, bersuara, dan berpihak, selama itu pula ia relevan bagi umat dan bangsa.
Selamat Milad HMI. Tetap hijau bukan karena seragam, melainkan karena keberanian menjaga nurani.









